Rabu, 05 Juni 2013

Geng Motor dan Aksi Kekerasan

Geng Motor dan Aksi Kekerasan
Paulus Mujiran ;   Pendidik, Ketua Pelaksana Yayasan 
Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang
KORAN SINDO, 05 Juni 2013
 
 

Terungkapnya aksi kekerasan yang dilakukan geng motor menarik perhatian publik. Apalagi geng ini melakukan kekerasan berupa pemerkosaan, pembunuhan kepada korbannya. Masyarakat pun tidak aman dengan kehadirannya.

Identitasnya mudah dikenali karena mereka menggunakan sepeda motor dalam menjalankan aksinya. Aksi yang mirip dengan gerombolan ini sebenarnya mirip dengan bandit yang beraksi secara brutal dan membabi buta di jalanan. Aksi ini seolah melengkapi kemunculan geng-geng sejenis di kota besar yang memang dipelopori oleh para remaja. Nyaris semua kota bermunculan geng-geng motor yang aksinya cenderung meresahkan. Geng motor yang suka balapan ini banyak berkembang pesat di kotakota besar.

Korban yang berjatuhan pun sudah terhitung jumlahnya. Dalam ilmu psikologi sosial masa remaja merupakan masa puber yang rawan. Anak-anak yang memasuki masa puber berhadapan dengan ambiguitas. Di satu sisi, mereka tidak mau disebut anak-anak tetapi perkembangan yang ada belum memungkinkan disebut orang dewasa. Masa-masa puber atau tahap peralihan keadaan emosi masih labil sehingga mudah terpengaruh oleh lingkungan pergaulan.

Membentuk konformitas sosial dengan remaja lain dan kawan sebaya menjadi bentuk aktualisasi diri yang memungkinkan mereka diterima dan mengekspresikan dirinya sebagai remaja. Semakin brutal geng itu semakin cepat mendapat pengakuan dari masyarakat. Munculnya geng-geng remaja tidak lepas dari keinginan mereka mendapat pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Bahkan tindakan yang ekstrem seperti corat-coret di tempat strategis, membuat mural nama gengnya di WC umum, terminal, pasar, jalan tol, boks ATM menunjukkan keinginan mereka diakui orang lain.

Ada banyak macam kegiatan remaja untuk mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Yang positif seperti menjadi juara olimpiade, juara lomba olah raga, juara kelas. Namun tidak jarang sebagian di antaraya jatuh dalam pelukan kegiatan negatif seperti penyalahgunaan narkoba, kebutkebutan di jalan raya sampai membentuk geng-geng remaja yang mempraktikkan aksi kekerasan. Tindak kekerasan itu terinspirasi tindak kekerasan lain yang belakangan ini marak diberitakan di media televisi dan surat kabar.

Tidak jarang aksi kekerasan yang dilakukan geng banyak dimanfaatkan oleh kelompok lain untuk tujuan tertentu. Pada mulanya memang sekedar ajang berkumpul dan sosialisasi namun kemudian menjelma menjadi ajang balas dendam dalam konteks kekerasan. Para pelaku kekerasan seperti halnya geng motor lupa bahwa kekerasan yang dilakukan akan mengundang balas dendam dari kelompok lain. Kekerasan jalanan ini seringkali menjadi protes terhadap lambannya aparat keamanan mengambil tindakan tegas. Namun kemunculan geng motor yang mengarah pada aksi-aksi kejahatan bahkan perampokan sangatlah memprihatinkan.

Dan jangan dilupakan beberapa modus perampokan kendaraan bermotor menumpang ketenaran geng motor yang melakukan aksi kejahatan serupa. Citra geng motor yang pada mulanya sebagai ajang aktualisasi diri remaja kini rusak dan mendapat antipati masyarakat karena munculnya aksi-aksi kejahatan termasuk yang diberitakan media massa. Karena itu tidak salah ketika para psikolog sosial menyebut kekerasan yang dialami remaja mencerminkan degradasi moral yang serius.

Remaja yang sering dipandang sebagai tulang punggung masa depan justru terjerumus dalam model pendidikan yang salah. Dengan mempraktikkan kekerasan, sebenarnya mereka tengah melanggengkan suatu bentuk rantai domino yang oleh Johan Galtung (2001) sebagai efek domino kekerasan. Jika menilik anak-anak remaja yang masuk dalam geng berusia remaja seharusnya orang tua dan sekolah mengetahui tahap-tahap perkembangan anaknya. Masalahnya model pendidikan kita belakangan ini tidak mampu memberi tempat pada tahap-tahap perkembangan anak. Sekolah tidak ubahnya dengan tekanan bertubi yang membebani.

Target penilaian menyebabkan suasana sekolah tidak lagi nyaman untuk belajar. Demikian pun masyarakat tidak memiliki katup kontrol yang memadai. Padahal masa-masa remaja ketika anak mengalami kejenuhan dalam belajar mereka memerlukan kartasis sosial untuk keluar dari aneka tekanan. Mereka membutuhkan kegiatan positif bermakna untuk menyalurkan kelebihan energi dan kekuatan yang mereka miliki sebagai orang muda. Membentuk geng adalah salah satu bentuk kegiatan yang paling mungkin, selain murah juga mudah dilakukan oleh siapa saja tidak terbatas kendala geografis.

Di sisi lain, relasi remaja dan orang tua berjalan kurang harmonis. Kesenjangan pendidikan masa lalu orang tua dan remaja masa kini sering tidak terjembatani. Pembinaan remaja telah diambil alih oleh lingkungan yang kadang kala keliru menanamkan pembentukan negatif kepada remaja. Lingkungan sosial yang kumuh, pergaulan yang berantakan dan kemiskinan menjadi lingkaran setan tidak terurai. Celakanya, hanya sedikit wadah bagi anak remaja yang tersedia untuk melakukan pembinaan remaja.

Karang taruna yang pada masa lalu sempat favorit menjadi ajang pembinaan remaja dan kaum muda kini sudah memudar. Sehingga praktis tidak ada lagi intervensi terhadap remaja masa transisi yang memerlukan pegangan dalam pergaulan. Solusi yang bisa ditawarkan adalah menghidupkan kembali model-model paguyuban kaum muda yang memberi ajang kepada kaum muda untuk berkreasi sehingga minat dan bakat mereka dapat disalurkan secara positif dan bermanfaat.

Dalam diri remaja perlu dikembangkan kegiatan-kegiatan yang positif seperti sanggar anak, kelompok jurnalistik, karang taruna, olah raga untuk pemberdayaan mereka. Menangani geng motor yang kian meresahkan harus dengan tindakan yang tepat. Sebab jika tidak akan berdampak buruk bagi remaja. Salah penanganan justru akan menjadi embrio penjahat yang merugikan perkembangan remaja.***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar